Dikabarkan bahwa gunung bromo meletus kemarin 26 november pada pukul 17.54. Letusan gunung bromo memuntahkan abu dan asap pekat. Salah satu gunung api aktif di indonesia ini bergejolak setelah sebelumnya gunung merapi meletus. Berdasarkaan informasi yang di dapat, gunung bromo akhirnya meletus setelah sebelumnya pada hari rabu statusnya dalm keadaan awas.

Berikut berita yang berhasil didapat :

PROBOLINGGO – Perkiraan mengenai meletusnya Gunung Bromo akhirnya menjadi kenyataan. Sekitar pukul 17.22 kemarin (26/11) gunung setinggi 2.329 meter itu mengalami letusan kecil dengan memuntahkan abu dari bibir kawah dan asap hitam pekat. Digdoyo D.P., pemilik Hotel Yoschi di sekitar kawasan Gunung Bromo, menyebutkan bahwa letusan kecil gunung itu petang kemarin benar-benar tidak terduga. ’’Sekitar jam 4 sore tidak ada gejala apa-apa. Saat itu asap yang keluar (dari kawah Bromo) masih putih. Tapi, jam 5 sore tiba-tiba keluar asap hitam pekat,’’ tuturnya kepada Radar Bromo (Jawa Pos Group) kemarin petang.
Pria yang menjabat ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Probolinggo itu menyatakan bahwa dirinya berkoordinasi dengan dukun Tengger untuk antisipasi. ’’Pak Dukun menyarankan agar tetap tenang,’’ ujar Digdoyo.
Pos Pengamatan Gunung Bromo (PPGB) juga masih belum mengeluarkan rekomendasi evakuasi warga. Pasalnya, yang dimuntahkan hanya abu, bukan material batu. ’’Kami belum rekomendasikan evakuasi karena radius 3 km telah disterilkan,’’ kata Mulyono, vulkanolog PPGB, kemarin.
Mulyono menjelaskan, letusan kecil Bromo itu terjadi pada pukul 17.22. Saat itu gunung mengeluarkan abu setinggi 500–700 meter. Abu yang dimuntahkan tersebut mengarah ke barat daya atau arah Malang.
Kepala PPGB Syafi’i menuturkan, letusan Bromo kemarin petang termasuk letusan tremor. Soal durasi letusan, dia mengatakan, sampai pukul 19.30 letusan tersebut masih berlangsung dan terus terekam. ’’Ini masih kami hitung,’’ ujarnya.
Letusan Bromo itu cukup tiba-tiba. Sebab, sampai hari keempat sejak Bromo ditetapkan berstatus awas oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Bandung Selasa lalu (23/11), gempa tremor di sana turun.
Pada Selasa lalu (23/11), amplitudo gempa tremor Bromo 4–30 mm. Karena itu, petugas PPGB mengubah amplitudo secara manual agar tetap terbaca. Keesokan harinya (Rabu, 24/11), amplitudo gempa turun drastis hingga 2–5 mm. Pada Kamis lalu (25/11), tremor Bromo hanya mempunyai amplitudo 1,5–5 mm. ’’Memang begitu karakter Bromo. Jumlah gempa vulkanisnya meningkat, sedangkan tremornya menurun,’’ terang Mulyono.
Bagaimana peralatan EDM (electronic distance measurement) yang dipasang Kamis lalu (25/11)? Mulyono tidak bersedia menjawab. ’’Ada tim sendiri dari Bandung yang menangani. Saya hanya memantau aktivitas Bromo dari seismograf dan visualnya,’’ katanya.
Gede Suwandika, salah seorang anggota tim dari PVMBG Bandung yang menangani EDM (peralatan deteksi penggelembungan kawasan sekitar gunung), mengatakan bahwa alat tersebut masih dalam proses pengoperasian. Jadi, data tingkat penggelembungan belum diketahui. ’’Masih dalam proses,’’ ujarnya.
Sementara itu, tim penanggulangan bencana Kabupaten Probolinggo terus menyiapkan antisipasi menghadapi kemungkinan letusan Bromo. Kemarin tim yang diketuai langsung Bupati Hasan Aminuddin tersebut mulai menyosialisasikan teknis evakuasi kepada masyarakat.
’’Kami langsung turun ke sejumlah desa untuk menyosialisasikan teknis evakuasi bila terjadi letusan Gunung Bromo,’’ kata Kapolres Probolinggo AKBP Zulfikar Tarius yang menjadi pelaksana lapangan.
Sosialisasi itu dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri atas polres, kodim, satgas bencana, kecamatan setempat, serta relawan. Selain langsung kepada masyarakat melalui bantuan kepala desa, sosialisasi juga dilakukan melalui selebaran.
Zulfikar menjelaskan, begitu ada sinyal evakuasi dari PPGB di Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, informasi akan disampaikan kepada personel yang telah disiagakan di setiap dusun lewat handy talky (HT). Lantas, tokoh masyarakat akan membunyikan kentongan. Warga dikumpulkan di sejumlah titik yang telah ditentukan. Ada 10 titik kumpul di setiap dusun.
Menurut Kapolres, setelah berkumpul, warga akan dievakuasi ke barak pengungsian dengan kendaraan yang telah disiagakan. Sebanyak 699 warga Dusun Cemoro Lawang akan dievakuasi lebih dulu. Tim telah menyediakan 16 kendaraan dan truk. Tim juga mulai memberikan pemahaman kepada masyarakat soal pentingnya antisipasi.
Pendataan terhadap ternak milik warga juga mulai dilakukan. Hingga siang kemarin, jumlahnya belum diketahui pasti. ’’Sore ini (kemarin sore, Red) kami targetkan datanya sudah pasti bersama kepastian soal jumlah warga,’’ terang Kapolres.
Pada bagian lain, kemarin 69 siswa SD Ngadisari 2 di Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, menggelar sembahyang atau doa bersama terkait status Bromo. Para siswa memulai doa bersama sekitar pukul 08.00 di halaman sekolah dengan alas terpal.
Mengenakan pakaian adat suku Tengger, para siswa kelas I sampai VI tersebut datang ke sekolah dengan membawa sesaji.
Menurut Atmo Triono, guru agama SD Ngadisari 2, setiap Jumat dan Sabtu ada kegiatan keagamaan di sekolahnya. Karena Bromo berstatus awas, kegiatan keagamaan dibingkai lewat acara sembahyang. Acara itu berlangsung selama satu setengah jam. Acara doa bersama itu mengantisipasi letusan Bromo sekaligus pembelajaran bagi para siswa. ’’Biar anak-anak tahu kondisi Bromo dan kebiasaan leluhur,’’ jelas Atmo. (qb/yud/jpnn)